Senin, 25 Februari 2013

Persamaan Reaksi Klasifikasi Enzim




A.    Klasifikasi Enzim
Enzim diklasifikasikan menjadi 6 kelas, yaitu :
1. Kelas Oksidoreduktase
2. Kelas Transferases
3. Kelas Hidrolase
4. Kelas Liase
5. Kelas Isomerase
6. Kelas Ligase

B.     Contoh Enzim, Inhibitor, Mekanisme Reaksi, dan Perannya di Dalam Tubuh
1.      Kelas Oksidoreduktase
Contoh enzim         : Alcohol dehydrogenase
Contoh inhibitor      : 7,10 – phenanthroline
Mekanisme reaksi    : a primary alcohol + NAD+ = an aldehyde + NADH + H+
Peran di dalam tubuh      : untuk mengkatalisis pengambilan atom hydrogen dari suatu senyawa, baik dehidrogenase atau oksidase.

2.      Kelas Transferases
Contoh Enzim         : Methionine synthase
Contoh Inhibitor     : ZL – 031
Mekanisme reaksi    :     5-methyltetrahydrofolate + L-homocysteine = tetrahydrofolate + L-methionine
Peran di dalam tubuh      : Enzyme yang mengkatalisis reaksi pemindahan suatu gugus dari suatu senyawa kepada senyawa lain.

3.      Kelas Hidrolase
Contoh Enzim         : Cellulase
Contoh Inhibitor     : 2,4-dinitrophenol
Mekanisme reaksi    : Celluohexaose + H2O = 2 cellotriose
Peran di dalam tubuh      : Enzim yang berperan sebagai katalis pada reaksi hidrolisis baik pemecahan ester glikosida dan peptide.

4.      Kelas Liase
Contoh Enzim         : Carbonate dehydratase
Contoh Inhibitor     : (2E) 4 – methoxy – 4 – oxobut – 2 – enoic acid
Mekanisme reaksi    : H2CO3 = CO2 + H2O

5.      Kelas Isomerase
Contoh Enzim         : DNA Topoisomerase
Contoh Inhibitor     : ( + ) iso corydine
Mekanisme reaksi    : ATP + independent breakage of single – strand ed DNA, followed by passage and rejoining

6.      Kelas Ligase
Contoh Enzim         : Acetone Carboxylase
Contoh Inhibitor     : ( + ) - p – [ 1 – ( p – text – butylpheny) ] – 2 – oxo – 4 – pyrro
Mekanisme reaksi    : ATP + acetyl – CoA + HCO3 - + H+ = ADP + phosphate + malonyl - CoA





Teori Keperawatan menurut LEVINE



Teori Keperawatan menurut LEVINE


*Keperawatan adalah bagian budaya yang direfleksikan dengan ide-ide dan nilai-nilai , dimana perawat memandang manusia itu sama, merupakan suatu rangkaian disiplin dalam menguasai organisasi atau kumpulan yang dimiliki individu dalam menjalin hubungan manusia sekitarnya.
*Intisari dari keperawatan adalah manusia.
*Responsibilitas tanggung jawabPerawat bertanggung jawab dalam mengenal respon (perubahan tingkah laku atau tingkat fungsi tubuh ) sebagai adaptasi klien atau usaha untuk beradaptasi terhadap respon antara lain :
§ Rasa takut                     §Stress
§ Inflamasi                       §lingkungan.
*Fungsi-Fungsi perawat memasukkan intervensi :
v  untuk meningkatkan adaptasi terhadap penyakit dan evaluasi intervensi sebagai support (dorongan)
v  untuk membantu mempertahankan status kesehatan dan mencegah penyakit lebih lanjut.
v  untuk  meningkatkan penyembuhan dan pemulihan kesehatan.( terapeutik )
*4 prinsip perlindungan yang mendorong tujuan perawatan untuk mempertahankan atau seseorang ke status kesehatan :
Ø  memulihkan Perlindungan terhadap energy keseimbangan intake dan output energi untuk mencegah kelelahan
Ø  Perlindungan terhadap integritas struktur mempertahankan atau pemulihan struktur tubuh (penyembuhan )
Ø  Perlindungan terhadap integritas personal mempertahankan atau pemulihan rasa identitas dan harga diri (mengenali kualitas diri)
Ø  Perlindungan terhadap integritas social memperkenalkan klien sebagai suatu makhluk sosial khususnya dengan orang lain.
*Teori Levine berfokus pada satu orang klien, teori ini mempunyai implikasi utama dalam pengaturan perawatan akut, dimana intervensi dapat bersifat mendorong atau terapeutik.

* Levine mendefinisikan perawatan berdasarkan pada ketergantungan atau  hubungan manusia dengan orang lain.
*Besarnya ketergantungan ini membuatnya merencanakan empat prinsip konservasi yakni :
*      kebutuhan energi dan pemakaiannya
*      integritas social
*      integritas struktur
*      integritas personal.

*Manusia tergantung pada yang lain pada semua aspek kehidupan, makanan, keamanan, rekreasi dan penghargaan.
*Levine mengharapkan seorang perawat :
  1. mengetahui kekomplekan interaksi
  2. mendukung dalam mempertahankan atau memulihkan hubungan saat klien mengalami gangguan kesehatan.
*Inti dari definisi teori Levine bahwa perawatan adalah interaksi antara manusia, ia menggunakan konsep adaptasi dan peningkatan respon tubuh melalui pendekatan sistem.


*Dalam teori Levine, klien dipandang dalam posisi ketergantungan, sehingga kemampuan klien terbatas untuk berpartisipasi dalam pengumpulan data, perencanaan, implementasi atau semua fase dari posisi ketergantungan.

*Klien membutuhkan bantuan dari perawat untuk beradaptasi terhadap gangguan kesehatannya.Perawat bertanggung jawab dalam menentukan besarnya kemampuan partisipasi klien dalam perawatan.

*Dalam fase pengkajian, klien dikaji melalui dua metoda yaitu interview dan observasi. dalam pengkajian berfokus pada klien, keluarga, anggota lainnya, atau hanya mempertimbangkan penjelasan dari mereka dalam membantu memecahkan permasalahan kesehatan klien.

*Menurut Levine, jika anggota keluarga membutuhkan suatu perjanjian maka keluarga harus menjadi sasaran pengkajian. Dalam pengkajian menyeluruh, perawat menggunakan empat prinsip teori Levine yang disebut pedoman pengkajian.

*Perawat menitik beratkan pada keseimbangan energi klien dan pemeliharaan integritas klien. Kemudian perawat mengumpulkan sumber energi klien yaitu nutrisi, istirahat (tidur), waktu luang,hubungan dengan anggota keluarga/orang lain, pengobatan, lingkungan dan penggunaan energi yakni fungsi dari beberapa sistem tubuh, emosi dan stress sosial dan pola kerja.


*Data tentang integritas struktur klien yaitu :
*      pertahanan tubuh
*      struktur fisik
*      integritas personal (sistem diri klien) yakni keunikan, nilai, kepercayaan dan integritas sosial yakni : proses keputusan dari klien dan hubungan klien dengan orang lain serta kesukaran dalam berhubungan dengan orang lain atau masyrakat.


*Setelah mengumpulkan semua data, perawat menganalisa data secara menyeluruh. Analisa ini mencerminkan keseimbangan kekuatan dan kelemahan dari diri klien pada pengkajian (prinsip konservasi) dan perencanaan.

*Dalam menganalisa, konsep dan teori dari disiplin lain juga sama penekanannya sedangkan fase perencanaan dimasukkan tujuan akhir. Proses perawatan menekankan kualitas dari aktivitas klien dan perawat. Kesimpulannya mutu adalah sangat penting diaplikasikan dalam teori ini untuk mencapai tujuan klinik.

*Dasar dari pendapat ini adalah : Posisi ketergantungan dari klien sebagai akibat dari sakit atau bantuan kesehatan yang membutuhkan bantuan perawatan.Tanggung jawab perawat untuk memonitor kondisi klien dalam mengatur keseimbangan antara intervensi keperawatan dan partisipasi klien dalam perawatan.

*Perawat sebagai individu harus melibatkan klien dalam aktivitas pengkajian dasar dan kemampuan partisipasi klien dalam mencapai tujuan akhir. Tujuan harus mencerminkan usaha membantu klien untuk beradaptasi dan mencapai kondisi sehat.

* Dalam fase perencanaan, perawat harus menetapkan tujuan :
  1. Menetapkan strategi yang dipakai untuk perencanaan.
  2. Menentukan tingkat perencanaan yang harus dikembangkan untuk mencapai tujuan.
*Levine menyatakan perawat harus mempunyai dasar pengetahui praktis, kemudian tahapan dari perencanaan perawatan harus berdasar dari prinsip, hukum, konsep, teori, dan pengetahuan tentang diri manusia. Dalam mengembangkan perencanaan perawat harus meningkatkan kemampuan partisipasi klien dalam perencanaan perawatan dan mengidentifikasi tingkat partisipasi klien.

*Selama fase perencanaan perawat boleh konsul dengan team kesehatan lain. Pelaksanaan dari perawatan disebut implementasi. Perawat harus mengawasi respon klien. Data dikumpulkan kemudian dipakai dalam fase evaluasi. Selama fase evaluasi perawat bertanggung jawab untuk memberikan perawatan kepada klien.

* Teori Levine menyatakan bahwa :

ü  Perawat harus memiliki skill untuk melaksanakan intervensi keperawatan.
ü  Intervensi perawat mendorong adaptasi klien.
ü  Dalam fase evaluasi perawat memusatkan respon dari klien untuk melakukan tindakan perawatan.
ü  Perawat mengumpulkan data tentang respon klien untuk menetukan intervensi perawatan yaitu tentang pengobatan atau support.


*Teori Levine berfokus pada orang per orang, berorientasi pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang, dan klien dengan gangguan kesehatan membutuhkan intervensi perawatan.

Sabtu, 26 Januari 2013

NEUTRANSMITTER



NEUROTRANSMITER
ð  Neurotransmiter adalah senyawa organik endogenus membawa sinyal di antara neuron.

ð  Neurotransmitter dalam bentuk zat kimia bekerja sebagai penghubung antara otak ke seluruh jaringan saraf dan pengendalian fungsi tubuh.

ð  Secara sederhana, dapat dikatakan neurotransmiter merupakan bahasa yang digunakan neuron di otak dalam berkomunikasi.

ð  Seluruh aktivitas kehidupan manusia yang berkenaan dengan otak di atur melalui tiga cara, yaitu :
1.     sinyal listrik pada neuron,
2.    zat kimiawi yang di sebut neurotransmitter
3.    hormon yang dilepaskan ke dalam darah.

ð  Hampir seluruh aktivitas di otak memanfaatkan neurotransmitter.

ð  Bahan dasar pembentuk neurotransmiter adalah asam amino. Asam amino merupakan salah satu nutrisi otak terpenting, yang berfungsi meningkatkan kewaspadaan, mengurangi kesalahan, dan memacu kegesitan pikiran.

Asetilkolin ( Ach )
ð  Asetilkolin merupakan neurotransmiter hasil sintesa dari bahan utama berupa kolin.

ð  Asetilkolin merupakan neurotransmitter yang tidak diproduksi didalam neuron. Ach ditransportasikan ke otak dan ditemukan pada seluruh bagaian otak. AcH memiliki konsentrasi tinggi di basal ganglia dan korteks motorik.

ð  Fungsi asetilkolin antara lain mempengaruhi :

·         kesiagaan,
·         kewaspadaan,
·         pemusatan perhatian.
·         Proses penyimpanan dan pemanggilan kembali ingatan, atensi dan respon individu.

ð  Di otak, asetilkolin ditemukan pada cerebral cortex, hippocampus (terlibat dalam fungsi ingatan), bangsal ganglia (terlibat dalam fungsi motoris), dan cerebrum (koordinasi bicara dan motoris)

ð  Fungsi Utama Acetylcholine (ACh) adalah mengatur atensi, memori, rasa haus, pengaturan mood, tidur REM, memfasilitasi perilaku seksual dan tonus otot.

ð  Gejala Defisit: Kurangnya inhibisi, Berkurangnya fungsi memori, Euphoria, Antisosial, Penurunan fungsi bicara .

ð  Gejala Berlebihan: Over-inhibisi, Ansietas & Depresi dan Keluhan Somatik.

Norepinefrin
ð  Norepinephrine memiliki konsentrasi tinggi di dalam locus ceruleus serta dalam konsentrasi sekunder dalam hippocampus, amygdala, dan kortexks cerebral. Selain itu ditemukan juga dalam konsentrasi tinggi di saraf simpatis.

ð  Badan sel neuron adrenergik yang menghasilkan norepinefrin terletak di locus ceruleus (LC) batang otak dan berproyeksi ke korteks serebri, sistem limbik, basal ganglia, hipotalamus dan talamus. Berperan dalam mulai dan mempertahankan keterjagaan (proyeksi ke limbiks dan korteks).

ð  Locus ceruleus juga tempat neuron-neuron yang berproyeksi ke medula adrenal dan sumber utama sekresi norepinefrin ke dalam sirkulasi darah perifer.

ð  Fungsi Utama adalah mengatur fungsi kesiagaan, pusat perhatian dan orientasi ,mengatur “fight-flight” dan proses pembelajaran dan memori.

ð  Rangsangan terhadap bundel forebrain (jaras norepinefrin penting di otak) meningkat pada perilaku yang mencari rasa senang dan perilaku yang bertujuan. Stressor yang menetap dapat menurunkan kadar norepinefrin di forbrain medial. Penurunan ini dapat menyebabkan anergia, anhedonia, dan penurunan libido pada depresi.

ð  Gejala Defisit : Ketumpulan. Kurang energi (Fatique), Depresi.

ð  Gejala Berlebihan : Ansietas ,kesiagaan berlebih ,penurunan rasa awas, Paranoia, Kurang nafsu makan dan Paranoid.

ð  Hasil metabolisme norepinefrin adalah 3 methoxy 4 hydroxyphenilglycol (MHPG).

Dopamin
ð  Dopamin merupakan jenis neurotransmiter yang mempengaruhi proses pengingatan. Melalui mekanisme kompensasi yang di munculkan oleh dopamin, maka hubungan zat kimia ini dalam proses belajar dan ingatan dapat terlihat jelas.

ð  Dopamin di produksi pada inti-inti sel yang terletak dekat dengan sistem aktivasi retikuler. Dopamin di bentuk dari asam amino tirosin, yang berfungsi membantu otak mengatasi depresi, meningkatkan ingatan dan meningkatkan kewaspadaan mental.

ð  Walaupun dopamin di produksi oleh otak, individu tetap membutuhkan asupan tirosin yang cukup guna memproduksi dopamin. Tirosin di temukan pada makanan berprotein seperti : daging, produk-produk susu (sperti keju), ikan , kacang panjang, kacang-kacangan dan produk kedelai. Dengan 3-4 ons protein sehari, energi kita akan lebih terjaga.

ð  Fungsi Dopamin sebagai neururotransmiter kerja cepat disekresikan oleh neuron-neuron yang berasal dari substansia nigra, neuron-neuron ini terutama berakhir pada regio striata ganglia basalis. Pengaruh dopamin biasanya sebagai inhibisi.

ð  Ada empat jaras dopamin di otak, yaitu tuberoinfundobulair, nigrostriatal, mesolimbik, mesokorteks-mesolimbik. Sistem ini berfungsi untuk mengatur motivasi, konsentrasi, memulai aktivitas yang bertujuan, terarah dan kompleks, serta tugas-tugas fungsi eksekutif.
ð  Penurunan aktivitas dopamin pada sistem ini dikaitkan dengan gangguan kognitif, motorik, dan anhedonia yang merupakan manifestasi simptom depresi.

Asam Gamma Aminobutrik (GABA)
ð  GABA (gamma-aminobutyric acid) memiliki efek inhibisi terhadap monoamin, terutama pada sistem mesokorteks dan mesolimbik.

ð  Pada penderita depresi terdapat penurunan GABA. Stressor khronik dapat mengurangi kadar GABA dan antidepresor dapat meningkatkan regulasi reseptor GABA.Banyak pathway di otak menggunakan GABA dan merupakan Neurotransmitter utama untuk sel Purkinje. GABA dipindahkan dari synaps melalui katabolism oleh GABA transaminase.

ð  Fungsi Utama adalah menurunkan arousal dan mengurangi agresi, kecemasan dan aktif dalam fungsi eksitasi.

ð  Gejala Defisit : Irritabilitas, Hostilitas, Tension and worry, Anxietas, Seizure.

ð  Gejala Berlebihan : Mengurangi rangsang selular, Sedasi dan Gangguan memori.
         
Hipotalamus (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal)
ð  Bila pengalaman yang berbentuk stressor dalam kehidupan sehari-hari kita tercatat dalam korteks serebri dan sistem limbik sebagai stresor atau emosi yang mengganggu, bagian dari otak ini akan mengirim pesan ke tubuh.
*Tubuh meningkatkan kewaspadaan untuk mengatasi stressor tersebut.

*
Target adalah kelenjar adrenal. Adrenal akan mengeluarkan hormon kortisol untuk mempertahankan kehidupan.
*Kortisol memegang peranan penting dalam mengatur tidur, nafsu makan, fungsi ginjal, sistem imun, dan semua faktor penting kehidupan. Peningkatan aktivitas glukokortikoid (kortisol) merupakan respon utama terhadap stressor. Kadar kortisol yang meningkat menyebabkan “umpan balik”, yaitu hipotalamus menekan sekresi cortikotropik-releasing hormone (CRH), kemudian mengirimkan pesan ini ke hipofisis sehingga hipofisi juga menurunkan produksi adrenocortictropin hormon (ACTH). Akhirnya pesan ini juga diteruskan kembali ke adrenal untuk mengurangi produksi kortisol.
ð  Pengalaman buruk seperti penganiayaan pada masa anak atau penelantaran pada awal perkembangan merupakan faktor yang bermakna untuk terjadinya gangguan mood pada masa dewasa.

ð  Sistem CRH merupakan sistem yang paling terpengaruh oleh stressor yang dialami seseorang pada awal kehidupannya. Stressor yang berulang menyebabkan peningkatan sekresi CRH, dan penurunan sensitivitas reseptor CRH adenohipofisis.

      *
Stressor pada awal masa perkembangan ini dapat menyebabkan           perubahan yang menetap pada sistem neurobiologik atau dapat membuat   jejak pada sistem syaraf yang berfungsi merespon respon tersebut.
* Akibatnya, seseorang menjadi rentan terhadap stressor dan resiko terhadap penyakit-penyakit yang berkaitan dengan stressor meningkat, seperti terjadinya depresi setelah dewasa.
ð  Stressor pada awal kehidupan seperti perpisahan dengan ibu, pola pengasuhan buruk, menyebabkan hiperaktivitas sistem neuron CRH sepanjang kehidupannya. Selain itu , setelah dewasa, reaktivitas aksis HPA sangat berlebihan terhadap stressor.

ð  Adanya faktor genetik yang disertai dengan stressor di awal kehidupan, mengakibatkan hiperaktivitas dan sensitivitas yang menetap pada sistem syaraf. Keadaan ini menjadi dasar kerentanan seseorang terhadap depresi setelah dewasa. Depresi dapat dicetuskan hanya oleh stressor yang derajatnya sangat ringan.

ð  Respons sistem otonom dan hipofisis-adrenal terhadap stressor psikososial pada wanita dengan depresi yang mempunyai riwayat penyiksaan fisik dan seksual ketika masa anak lebih tinggi dibanding kontrol.
ð  Stressor berat di awal kehidupan menyebabkan kerentanan biologik seseorang terhadap stressor. Kerentanan ini menyebabkan sekresi CRH sangat tinngi bila orang tersebut menghadapi stressor. Sekresi tinggi CRH ini akan berpengaruh pula pada tempat di luar hipotalamus, misalnya di hipokampus. Akibatnya, mekanisme “umpan balik” semakin terganggu. Ini menyebabkan ketidakmampuan kortisol menekan sekresi CRH sehingga pelepasan CRH semakin tinggi. Hal ini mempermudah seseorang mengalami depresi mayor, bila berhadapan dengan stressor.

ð  Peningkatan aktivitas aksis HPA meningkatkan kadar kortisol. Bila peningkatan kadar kortisol berlangsung lama, kerusakan hipokampus dapat terjadi. Kerusakan ini menjadi prediposisi depresi. Simptom gangguan kognitif pada depresi dikaitkan dengan gangguan hipokampus.

ð  Gangguan aksis HPA pada depresi dapat ditunjukkan dengan adanya hiperkolesterolemia, resistennya sekresi kortisol terhadap supresi deksametason, tidak adanya respon ACTH terhadap pemberian CRH, dan peningkatan konsentrasi CRH di cairan serebrospinal. Gangguan aksis HPA, pada keadaan depresi, terjadi akibat tidak berfungsinya sistem otoregulasi atau fungsi inhibisi umpan balik. Hal ini dapat diketahui dengan test DST (dexamethasone supression test).